14 Mei 2008

12 Mei 2008

"Bunker!" "Siaaap!"
Sebelum berangkat menuju Jakarta, kami harus 'turun' dulu lebih kurang tiga seri. Slayer merah yang kami kenakan, kami peroleh dari main 'kejar-kejaran' dengan salah satu komandan kami, Eka. Di slayer itu tertulis 'Garda Pejuang IPB', yang berarti kami bunker dalam aksi ini. Tugas bunker sangatlah mudah, hanya membuat sebuah benteng manusia yang kokoh yang siap menghadapi pentungan-pentungan polisi. Kepala berdarah adalah hal biasa. Lebih dari itu kami siap mengahadapinya, tertembak misalnya. Kami dikelompokkan ke dalam satu bus. Tak henti-hentinya mental kami digojlok. "Keluarkan sebuah kertas! Tulis pesan terakhir kalian. Bubuhkan nomor telepon yang bisa dihubungi. Seandainya kalian mati, tulisan itu akan sampai di tangan yang kalian tuju." Itulah komando dari Jendral Lapangan Wahyu. Tiada henti-hentinya kami berzikir dalam hati. Lantunan ayat-ayat suci Al Quran terus menggaung di dalam bus yang kami tempati, bus enam. Kami membayangkan seandainya kami mati di medan jihad ini. Aksi ini kami niatkan jihad fi sabilillah. Jikalau mati pun, kami berharap syahid.


Bismillahirrahmanirrahim..

Assalamu'alaikum warahmatullah

Ayah Ibu maafkan ananda atas segala kesalahan ananda selama ini. Jikalau ayah ibu menerima surat ini, berarti ananda sudah tiada. Insya Allah ananda mati syahid. Masuk surga tanpa dihisab bersama para Nabi dan Rasul. Apa yang ananda lakukan saat ini adalah jihad fi sabilillah, semata-mata mengharap ridha Allah. Ananda juga mohon maaf tidak bisa melaksanakan kewajiban-kewajiban ananda sebagai seorang anak. Sampaikan pula permintaan maaf ananda kepada kakak dan adikku tercinta, serta kerabat-kerabat lainnya. Satu hal lagi, tolong selesaikan urusan utang-piutang ananda.
Terima kasih ayah ibu, ikhlaskan anakmu ini.

Salam Penuh Cinta
12/05/2008



Awang Darmawan

07 Mei 2008

Jawab yang Jujur!!!

Saat ini sulit sekali menemukan orang jujur. Banyak orang berbohong berdalih untuk kebaikan. Dimana-mana yang bohong tetap bohong, tidak ada pembenaran dalam hal ini. Terlebih lagi ketika orang mulai mengganti cara komunikasi tatap muka dengan via handphone.
Berdasarkan penelitian, orang cenderung akan berbohong ketika mereka menelepon atau sms-an. Sangat sulit menentukan seseorang berbohong atau tidak melalui hape, tetapi ini bukan hal yang tidak mungkin. Biasanya ada indikasi seseorang berbohong pada percakapan via telepon atau sms. Berikut ini hasil investigasi:



Inkonsistensi
Bila Anda memerhatikan dengan cermat, orang yang berbohong pasti mengulangi kebohongannya dengan mengatakan hal yang berseberangan dengan perkataannya di awal.



Lama Berpikir (Untuk Berbohong)
Tanya orang yang bersangkutan dengan pertanyaan yang spontan dan mendesak. Jika ia menjawab agak lama (tidak wajar), indikasi berpikir mencari kata yang tepat untuk berbohong 80%.



Banyak Alasan
Karena takut dimarahi akhirnya 'terpaksa' mencari-cari seribu alasan. Itu yang sering terjadi. Orang yang banyak mengutarakan alasan-alasan yang 'tidak logis' dan bertele-tele sudah bisa dipastikan ia berbohong.

Hal-hal di atas terjadi pada umumnya-bukan berarti selalu terjadi. Apakah Anda termasuk orang yang jujur? Jawab yang Jujur!!!


14 Januari 2008

Sebuah Impian Baru

Ternyata mimpi itu mudah. Anda tinggal tidur sejenak, kemudian bermimpilah. Tapi bukan itu yang saya maksud. Mimpi ini Anda lakukan ketika Anda terbangun. Lebih jelasnya ketika Anda dalam keadaan sadar, tidak dipengaruhi oleh apapun atau siapapun. Mimpi terdengar konotasi negatif memang. Okey, lebih lanjut saya akan menyebut mimpi ini cita-cita, tidak lain hanya untuk membuat Anda lebih senang membacanya.

Langkah pertama
Tentukan apa cita-cita Anda. Jikalau saat ini Anda masih menjawab, "Saya ingin menjadi dokter!", buah jauh-jauh pikiran tersebut (kecuali bagi Anda yang benar-benar ingin menjadi dokter). Dunia ini begitu luas dan akan terus bertambah luas. Kalau dulu pekerjaan hanya sebatas dalam bentuk materi atau fisik, sekarang jasa pun diperdagangkan. Contoh, seorang Ibu ingin kebunnya tampak indah dengan beragam bunga yang berganti setiap hari. Namun, sang Ibu tak mampu mengurusnya karena beliau harus mengawasi kinerja anak buahnya di pabrik rumahan yang menghasilkan tak kurang seribu liter susu kedelai setiap harinya. Hal tersebut dimanfaatkan oleh seorang pemuda yang langsung menawarkan jasa untuk mengurusi kebun sang Ibu. "Jadi pekerjaan itu tak ubahnya tukang kebun?" Jawabannya, sama sekali beda. Pemuda itu tidak lantas mengurusi kebun sang Ibu, tapi ia memperkerjakan beberapa orang tukang kebun yang terjun langsung menata kebun sang Ibu. Itulah pekerjaan Kawan.

Langkah kedua
bersambung...

Terima Kasih

Terima kasih atas kunjungannya, sampai jumpa lagi..