Impian Anak Tukang Parkir

Tak ada yang mesti disayangkan menjadi anak tukang parkir. Kehidupanku sama seperti anak lainnya. Justru bisa dibilang cukup berlebih dalam hal finansial. Masa kecilku sangat bahagia. Mamaku selalu memanjakanku. Kalau dihitung-hitung hari kelahiranku pernah dirayakan kurang lebih sebanyak 5 kali. Hal itu tidak biasa pada saat itu karena kondisi perekonomian negara sedang mengalami krisis. Belum lagi asupan makanan yang jauh dari malgizi. Dalam sehari aku minum susu merk terkenal dua kali, pagi dan malam hari. Sampai dengan saat ini pun aku masih minum susu, tapi dengan merk yang berbeda.

Sebelum sekolah, aku dikirim kedua orang tuaku ke TK Karyawan Putra. Jaraknya cukup jauh, mungkin sekitar satu kilometer dari rumahku. Walaupun cukup jauh untuk anak umur 5 tahun, aku tetap semangat berlari kecil menuju TKku tercinta. Aku tidak sendiri. Aku bersama kedua orang temanku, yaitu Anto dan Dwi -akan aku ceritakan tentang mereka nanti di tulisanku yang lain-. Mereka tetangga yang sudah keluargaku anggap sebagai saudara karena saking dekatnya hubungan dengan keluarga kami. Waktu TK aku termasuk anak yang cerdas. Guru-guruku selalu bangga dengan kelakuanku karena menurut mereka aku 'beda' dengan anak lainnya. Keaktifanku menjawab pertanyaan, bermain, dan menyusun balok bergambar hewan membuat orangtua teman-temanku iri. Syukurnya Mamaku tidak mengantarku waktu itu -karena aku termasuk anak yang mandiri dan tidak cengeng kalau ditinggal- karena bisa-bisa dicemberuti oleh ibu-ibu yang lain. Mamaku mengetahui trackrecordku di TK karena diceritakan oleh guru-guruku pada saat mengambil raport -laporan hasil kegiatan selama satu caturwulan-. Hingga saatnya pengambilan raport terakhir dan tukar kado sebagai tanda pelepasan kami dari TK Karyawan Putra. Terima kasih guru-guruku tercinta.

Seusai dari TK, aku dibawa Mamaku ke SD. SDku tak jauh dari rumah. Masih bisa ditempuh dengan jalan kaki. Namanya SDN 09 Pagi Grogol Selatan. Nama Grogol Selatan bukan berarti di daerah yang sama dengan RSJ Grogol. Itu diambil dari nama Kelurahan setempat. Masih dengan Anto dan Dwi, aku berangkat sekolah dengan penuh semangat di hari pertama. Aku duduk di bangku ketiga dari depan karena menurut aku dan mamaku tempat itu yang paling moderat. Menurut pandangan beberapa orang, tempat duduk menentukan prestasi. Tempat duduk paling depan menunjukkan orang yang menempatinya sangat pintar, sebaliknya tempat duduk paling belakang menunjukkan orang itu bodoh dan nakal. Makanya aku duduk diantara keduanya karena aku termasuk anak yang sangat pintar tidak, bodoh pun tidak. Jarak pandang ke papan tulis juga cukup terlihat jelas dari sini. Dari sini juga aku bisa menunduk memposisikan diriku agar terhalang teman besarku di depan -Anto- sehingga guruku tak menunjukku untuk maju ke depan. Maklum, karena hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah. Aku yang baru berusia 6 tahun masih perlu beradaptasi dengan teman-teman baruku. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan tahun pun berganti, aku sudah bisa beradaptasi menyamankan diri di tempat yang baru ini. Jawaban demi jawaban aku lontarkan ketika ditanya oleh guruku. Rasa malu itu seolah sirna ditimpa rasa percaya diri yang muncul sedikit demi sedikit. Aku suka sekali dengan ilmu eksakta, terutama Matematika. Logika dan rumus-rumus itu terus melayang-layang dalam benakku. Tak bosan aku berbetah-betahan di depan buku yang berisi rumus-rumus. Tak ayal aku mendapatkan peringkat ke dua di kelas satu SD -selengkapnya di tulisan terpisah-. Tak terasa sudah di penghujung tingkat terakhir di SD. Saatnya aku keluar dan menuju tahap pendidikan selanjutnya. bersambung

Terima Kasih

Terima kasih atas kunjungannya, sampai jumpa lagi..