Ternyata mimpi itu mudah. Anda tinggal tidur sejenak, kemudian bermimpilah. Tapi bukan itu yang saya maksud. Mimpi ini Anda lakukan ketika Anda terbangun. Lebih jelasnya ketika Anda dalam keadaan sadar, tidak dipengaruhi oleh apapun atau siapapun. Mimpi terdengar konotasi negatif memang. Okey, lebih lanjut saya akan menyebut mimpi ini cita-cita, tidak lain hanya untuk membuat Anda lebih senang membacanya.
Langkah pertama
Tentukan apa cita-cita Anda. Jikalau saat ini Anda masih menjawab, "Saya ingin menjadi dokter!", buah jauh-jauh pikiran tersebut (kecuali bagi Anda yang benar-benar ingin menjadi dokter). Dunia ini begitu luas dan akan terus bertambah luas. Kalau dulu pekerjaan hanya sebatas dalam bentuk materi atau fisik, sekarang jasa pun diperdagangkan. Contoh, seorang Ibu ingin kebunnya tampak indah dengan beragam bunga yang berganti setiap hari. Namun, sang Ibu tak mampu mengurusnya karena beliau harus mengawasi kinerja anak buahnya di pabrik rumahan yang menghasilkan tak kurang seribu liter susu kedelai setiap harinya. Hal tersebut dimanfaatkan oleh seorang pemuda yang langsung menawarkan jasa untuk mengurusi kebun sang Ibu. "Jadi pekerjaan itu tak ubahnya tukang kebun?" Jawabannya, sama sekali beda. Pemuda itu tidak lantas mengurusi kebun sang Ibu, tapi ia memperkerjakan beberapa orang tukang kebun yang terjun langsung menata kebun sang Ibu. Itulah pekerjaan Kawan.
Langkah kedua
bersambung...
Langkah pertama
Tentukan apa cita-cita Anda. Jikalau saat ini Anda masih menjawab, "Saya ingin menjadi dokter!", buah jauh-jauh pikiran tersebut (kecuali bagi Anda yang benar-benar ingin menjadi dokter). Dunia ini begitu luas dan akan terus bertambah luas. Kalau dulu pekerjaan hanya sebatas dalam bentuk materi atau fisik, sekarang jasa pun diperdagangkan. Contoh, seorang Ibu ingin kebunnya tampak indah dengan beragam bunga yang berganti setiap hari. Namun, sang Ibu tak mampu mengurusnya karena beliau harus mengawasi kinerja anak buahnya di pabrik rumahan yang menghasilkan tak kurang seribu liter susu kedelai setiap harinya. Hal tersebut dimanfaatkan oleh seorang pemuda yang langsung menawarkan jasa untuk mengurusi kebun sang Ibu. "Jadi pekerjaan itu tak ubahnya tukang kebun?" Jawabannya, sama sekali beda. Pemuda itu tidak lantas mengurusi kebun sang Ibu, tapi ia memperkerjakan beberapa orang tukang kebun yang terjun langsung menata kebun sang Ibu. Itulah pekerjaan Kawan.
Langkah kedua
bersambung...
